Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar di dunia. Berbekal kekayaan alam yang melimpah, Indonesia amat kaya akan hasil pertanian. Ditambah Indonesia beriklim tropis dan dilewati oleh garis khatulistiwa. Pada era pemerintahan Soeharto pada tahun 1980-an, Indinesia resmi menjadi negara swasembada pangan. Bahkan negri kita tercinta ini beberapa kali mengirim bantuan pangan kepada negara-negara tetangga yang saat itu sedang mengalami konflik, seperti Thailand dan Vietnam.
Namun, ketergantungan masyarakat Indonesia pada beras sebagai makanan pokok mulai mengkhawatirkan. Untuk itu, pemerintah yang saat itu dikepalai Soeharto sebagai presiden mulai menggalakkan program diversifikasi pangan. hal ini ditujukan untuk memberdayakan hasil pertanian lain seperti kentang, jagung, sagu, terigu, sukun dan lainnya sebagai makanan pokok. Namun pada kenyatannnya masyarakat Indonesia belum sepenuhnya sadar akan pentingnya masalah ini. Akibatnya, kini Indonesia yang dulu menjadi negara swasembada pangan justru merangkap sebagai negara pengimpor pangan. Ironisnya lagi, Negara Vietnam yang dulu mengimpor beras dan bahan pangan lainnya dari negara kita, kini justru menjadi pengekspor bahan pangan ke Indonesia. Program diversifikasi pangan yang sudah lebih dari 20 tahun di gembar-gemborkan seolah tak pernah ada.
Di dalam tulisan ini kami membahas mengenai salah satu hasil pertanian, yaitu sukun. Selama ini di beberapa daerah sukun telah dijadikan bahan makanan sehari-hari, tapi keberadaannya belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia sendiri. Sukun adalah salah satu contoh potensi yang belum diberdayakan oleh masyarakat Indonesia. Terlebih lagi sukun dapat digunakan sebagai senjata untuk diversifikasi pangan di negara kita. Kami berharap, melalui tulisan ini kami dapat menyampaikan segala hal yang berhubungan dengan sukun. Dan semoga di kemudian hari keberadaan sukun sebagai potensi pangan yang bermanfaat lebih diperhitungkan lagi.